Tahun 1973, Jepang untuk yang ketiga kali menempatkan warganya dalam jajaran penerima Nobel Fisika, yakni Leo Esaki. Seperti kedua pendahulunya, Hideki Yukawa dan Sin-Itiro Tomonaga, pria  kelahiran Osaka, Jepang pada 1925 ini melengkapi gelar sarjana hingga doktor di negerinya sendiri. Hal ini seakan membuktikan bahwa tingkat kualitas pendidikan di  Jepang memang sudah sangat tinggi begitupun dengan sumber daya manusianya.  Leo Esaki lahir di Osaka tahun 1925 dengan nama Esaki Reiona. Ia menyelesaikan sarjana mudanya 1947 yang dilanjutkan dengan bekerja sebagai peneliti di   Kobe Kogyo Corp selama 9 tahun. Kemudian ia menjadi pimpinan tim peneliti di Perusahaan Sony, Tokyo sambil  melanjutkan studinya di Universitas Tokyo dimana ia meraih gelar Ph.Dnya pada tahun 1959. Selama meneliti di perusahaan Sony, Esaki bergelut dalam studi mengenai efek terowongan (tunneling effect) pada sambungan p-n suatu material semikonduktor. Efek terowongan adalah efek mekanika kuantum dimana suatu  elektron dapat melewati suatu potensial penghalang yang menurut teori fisika klasik tidak mungkin diterobos. Penemuan Esaki ini kemudian dilanjutkan dengan  diciptakannya  diode Esaki (diode terowongan), suatu komponen yang sangat penting dalam fisika zat padat. Komponen ini berukuran sangat kecil, menggunakan daya sangat rendah tetapi  bekerja sangat cepat, karena itu  komponen ini banyak dimanfaatkan pada rangkaian berkecepatan tinggi di dalam  komputer-komputer atau jaringan-jaringan komunikasi. Ingin tahu profil beliau serta prestasi prestasinya? silahkan klik DOWNLOAD EBOOKNYA.